Terkadang kita bingung bagaimana mengukur kebahagiaan
Kadang pula kita lupa dibalik kebahagiaan, ada rasa pait sebelumnya
Namanya juga manusia, suka lupa jika sudah diatas. Banyak pepatah mengatakan, semakin kita lama menunggu, semakin kita menghargai sesuatu. Itu benar adanya. Sekarang, mari membahas masalah hati. Orang yang tidak sabar menunggu akan berpikiran "untuk apa menunggu sesuatu yang tidak pasti'. Namun baik kita sadari atau tidak, jika hati tersebut sudah terinves oleh orang lain, pepatah tersebut hanya menjadi angin belaka. Kita tetap saja berdiri disitu menunggu dan menunggu. Kita benci menunggu. Namun apadaya, hati dan otak tidak berada dijalan yang sama. Dua orang memperebutkan hati seorang gadis yang baru saja mereka temui. Salah satu diantaranya tentu mendapatkan gadis ini dan yang tidak terpilih, ada dua pilihan. Pilihan pertama yakni, melanjutkan hidup dan merelakannya atau yang kedua melihat dari kejauhan dan tetap berada diposisi yang sama.
Hati itu tidak memakai logika. Mau dikata bodoh atau kolot, ya memang benar itu adanya. Jika ditanya dengan pertanyaan logika, untuk apa menunggu seseorang jika diluar sana masih banyak jutaan gadis yang lebih menarik? Namun, hati cukup menjawab: cukup simpel. Karena hati ini sudah terinves di dirinya.
"Semakin lama kamu menunggu sesuatu, ketika hal tersebuh datang menghamipirimu dan akhirnya telah menjadi milikmu, kamu akan lebih menghargainya karena kamu tau, seberapa susah perjuangan untuk menunggunya"
Lelaki yang telah berhasil mendapatkan gadis tersebut sayangnya harus melepaskannya. Alasannya mungkin epik, namun lelaki ini belum mengenal dia sangat baik sehingga dia masih belum bisa menerimanya dalam segi hati. Pada awalnya, hatinya terpincut dari segi wajah yang sangat menarik. Namun apadaya, hati berkata lain dengan pikiran. Ekspektasi yang terlalu tinggi sehingga menyebabkan kekecewaan sehingga tidak dapat melanjutkan hubungannya. Lelaki itu pergi, namun dia yang menunggu masih berdiri ditempat yang sama. Melihat dari kejauhan tanpa melakukan apa-apa. Namun, perasaannya masih sama.
Keduanya diam. Diam tanpa mengeluarkan suara. Hening untuk beberapa waktu yang cukup lama sampai tiba saatnya. Hati memang tidak dapat dibohongi. Mau sejuta sumpah serapah terhadap hati, hal tersebut tidak pernah bohong. Gengsi, takut, harga diri yang sangat tinggi dipertahankan sangat kuat. Keduanya saling tidak mau mengakui. Takut jika perasaannya hanya menjadi sapaan tembok yang diam saja. Takut jika perasaannya tidak terbalaskan. Takut akan konsekuensi sakit hati. Namun apa daya, tiba saatnya dimana mulut ini mengatakan isi hati terdalam. Haus akan penasaran yang lama tak terungkap akhirnya terbongkar. Lega namun menyakitkan. Lega karena isi hati ini telah tercurah semuanya Sakit karena kita mengetahui ada sesuatu yang tidak bisa dipaksakan.
Gadis dan lelaki itu adalah sepasang kaca. Keduanya memiliki karakter pribadi yang sama. Keras seperti batu, harga diri yang sangat tinggi, dan ego yang tinggi. Jika keduanya disatukan, mungkin bisa menjadi api. Itu adalah teori buatan manusia. Ya, memang teori buatan manusia. Namun keduanya takut untuk menjalaninya. Takut akan ada kata pisah. Kita semua mengetahui, dimana ada pertemuan, disitu ada perpisahan. Perpisahan itulah yang mereka belum siap sama sekali.Beberapa orang berpendapat, jika keduanya saling sayang, maka hal tersebut bukannlah rintangan yang berarti. Cobalah tukar posisi. Mungkin bisa berubah pendapat.
Pada awalnya orang-orang bangga akan pada pilihannya. Namun yang tersulit bukanlah mendapatkan pilihannya tersebut. Bagian yang tersulit adalah bertahan pada pilihannya.
They are more than friends, yet less than couple