Wednesday, August 27, 2014

Bertahan Pada Pilihan

Terkadang kita bingung bagaimana mengukur kebahagiaan
Kadang pula kita lupa dibalik kebahagiaan, ada rasa pait sebelumnya
Namanya juga manusia, suka lupa jika sudah diatas. Banyak pepatah mengatakan, semakin kita lama menunggu, semakin kita menghargai sesuatu. Itu benar adanya. Sekarang, mari membahas masalah hati. Orang yang tidak sabar menunggu akan berpikiran "untuk apa menunggu sesuatu yang tidak pasti'. Namun baik kita sadari atau tidak, jika hati tersebut sudah terinves oleh orang lain, pepatah tersebut hanya menjadi angin belaka. Kita tetap saja berdiri disitu menunggu dan menunggu. Kita benci menunggu. Namun apadaya, hati dan otak tidak berada dijalan yang sama. Dua orang memperebutkan hati seorang gadis yang baru saja mereka temui. Salah satu diantaranya tentu mendapatkan gadis ini dan yang tidak terpilih, ada dua pilihan. Pilihan pertama yakni, melanjutkan hidup dan merelakannya atau yang kedua melihat dari kejauhan dan tetap berada diposisi yang sama. 
Hati itu tidak memakai logika. Mau dikata bodoh atau kolot, ya memang benar itu adanya. Jika ditanya dengan pertanyaan logika, untuk apa menunggu seseorang jika diluar sana masih banyak jutaan gadis yang lebih menarik? Namun, hati cukup menjawab: cukup simpel. Karena hati ini sudah terinves di dirinya. 

"Semakin lama kamu menunggu sesuatu, ketika hal tersebuh datang menghamipirimu dan akhirnya telah menjadi milikmu, kamu akan lebih menghargainya karena kamu tau, seberapa susah perjuangan untuk menunggunya"

Lelaki yang telah berhasil mendapatkan gadis tersebut sayangnya harus melepaskannya. Alasannya mungkin epik, namun lelaki ini belum mengenal dia sangat baik sehingga dia masih belum bisa menerimanya dalam segi hati. Pada awalnya, hatinya terpincut dari segi wajah yang sangat menarik. Namun apadaya, hati berkata lain dengan pikiran. Ekspektasi yang terlalu tinggi sehingga menyebabkan kekecewaan sehingga tidak dapat melanjutkan hubungannya. Lelaki itu pergi, namun dia yang menunggu masih berdiri ditempat yang sama. Melihat dari kejauhan tanpa melakukan apa-apa. Namun, perasaannya masih sama.

Keduanya diam. Diam tanpa mengeluarkan suara. Hening untuk beberapa waktu yang cukup lama sampai tiba saatnya. Hati memang tidak dapat dibohongi. Mau sejuta sumpah serapah terhadap hati, hal tersebut tidak pernah bohong. Gengsi, takut, harga diri yang sangat tinggi dipertahankan sangat kuat. Keduanya saling tidak mau mengakui. Takut jika perasaannya hanya menjadi sapaan tembok yang diam saja. Takut jika perasaannya tidak terbalaskan. Takut akan konsekuensi sakit hati. Namun apa daya, tiba saatnya dimana mulut ini mengatakan isi hati terdalam. Haus akan penasaran yang lama tak terungkap akhirnya terbongkar. Lega namun menyakitkan. Lega karena isi hati ini telah tercurah semuanya Sakit karena kita mengetahui ada sesuatu yang tidak bisa dipaksakan.

Gadis dan lelaki itu adalah sepasang kaca. Keduanya memiliki karakter pribadi yang sama. Keras seperti batu, harga diri yang sangat tinggi, dan ego yang tinggi. Jika keduanya disatukan, mungkin bisa menjadi api. Itu adalah teori buatan manusia. Ya, memang teori buatan manusia. Namun keduanya takut untuk menjalaninya. Takut akan ada kata pisah. Kita semua mengetahui, dimana ada pertemuan, disitu ada perpisahan. Perpisahan itulah yang mereka belum siap sama sekali.Beberapa orang berpendapat, jika keduanya saling sayang, maka hal tersebut bukannlah rintangan yang berarti. Cobalah tukar posisi. Mungkin bisa berubah pendapat. 

Pada awalnya orang-orang bangga akan pada pilihannya. Namun yang tersulit bukanlah mendapatkan pilihannya tersebut. Bagian yang tersulit adalah bertahan pada pilihannya. 

They are more than friends, yet less than couple

Friday, August 15, 2014

12 Agustus 2014

Ketika dua orang yang mempunyai perasaan yang sama tapi gabisa sama-sama. Hal itu terhalangi dari ego masing-masing yang terlalu sama sifatnya. Ya, ego. Ego menghalangi kedua perasaan sehingga hanya bisa sampai batas disitu saja.
Jika ditanya apakah ingin berubah, ya tentu. Jika hal itu untuk sesuatu yang lebih baik kenapa tidak. Namun, memang butuh proses. Proses yang lama dan membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak.
Berubah itu tidaklah mudah. Semua butuh proses. Tapi apa boleh buat jika perasaan satu dengan yang lainnya terhalangi karena sebuah ego dan kelabilan anak muda jaman sekarang. 
Pertanyaan yang masih tak terjawab adalah, kenapa dia tidak berpindah ke lain hati saja daripada berdiang diri tanpa perubahan yang pasti. Dia masih ada disitu. Entah menunggu atau hanya melihat dari kejauhan.
Sejauh hati merasakan, kita sama. Apa lagi yang kurang? 
Hal yang paling kuyakini setiap dalam hubungan adalah dimana ada pertemuan, disitu ada perpisahan. Tapi kenapa ketika bersama dia, kata perpisahan itu sangat sulit diyakinkan? Belum siap atau tidak akan pernah siap.

We are more than friends but less than couple. Kami hanya bisa menjalani tanpa berekspektasi apa-apa. Untuk apa berekspektasi jika ujungnya happy ending hanya terwujud dalam pikiran belaka. Lebih baik diam dan biarkan waktu yang berbicara

Sunday, August 3, 2014

Sepasang Batu Keras

Terkadang, hati tidak sejalan dengan otak
Hati ingin saja mengalir namun otak menahannya
Menahanakan semua perasaan yang seharusnya bisa terungkat
Keegoisan mulai menyelimuti pribadi ini

Hati tidak dapat berbohong
Aku ingin saja berkata sesuakku
Namun apa daya jika pikiran ini menghalangi
seakan ia yang paling benar 

Biarlah sejenak pikiran mengalah kepada hati
Merobohkan segala tembok batu keeogoisan dalam hati
Aku hanya ingin berkata jujur pada pribadi ini
Sekali lagi, dia menolak untuk maju

Bolehkah jika aku hanya memeragakan segala tindakan kasihku?
Bisakah kau melihatnya?
Dapatkan aku merobohkan segala tembok batu yang keras ini?
Bisakah aku?

Banyak orang mengatakan, jujurlah pada dirimu sendiri
Sungguh, aku ingin mengatakan segalanya
Segala rasaku, ketakutanku, ingin tahumu yang kututupi
Apakah aku bisa?

Diriku ini adalah dirimu
Bagaikan cermin bayangan beda kepribadian
Kita serupa, namun tak sama
Dibatasi oleh kaca cermin yang tebal

Apakah kau yang disana bisa merobohkan sedikit batu itu?
Bisakah kamu?
Aku disini mungkin saja bisa
Jika memang jalan harus seperti itu

Ingatlah,
kita ini bagai jembatan yang hampir sempurna
Hanya menunggu satu tembok bata untuk menyempurnakannya
Namun, tidak ada yang berjalan untuk menyelesaikan

Jembatan pun tidak dapat jadi
Tidak dapat disebrangi
Sampai ada salah satu orang yang bisa dan mau menyelesaikan
Sempurnalah jembatan itu sampai titik darah penghabisan

Thursday, July 24, 2014

Robohkan Dinding Ini

Tulisan banyak arti
banyak makna yang tidak bisa dimengerti
Hati risih ingin menuangkan segalanya
Tanpa harus berpikir panjang, letih, atau pun lainnya
Mengakui bahwa memang hanya segelintir orang yang peduli

Dahulu pernah ada sebuah kisah
cerita yang tiada matinya
Sampai saat ini itulah yang masih dikenang
Perasaan culas dahulu yang menyelimuti hati
tak kunjung menuai arti

Hati ini gelisah menanti jawaban
Jawaban yang dulu pernah ada namuin dihiraukan
perasaan murka dan acuh dulu menutupi segalanya
tak ada penyesalan hingga saat ini
Namun menanti jawaban kembali yang tiada muncul kembali

Pernah kah kau merasa bahwa dulu kau telah menemukan yang pas?
Tiada alasan untuk meninggalkan
Bukan masalah hati namun lebih keegoisan diri
Meninggalkan semua yang pernah baik adanya
Letih tiada henti menanti dan menanti

Hati batu susah untuk dirobohkan
Siapa gerangan yang bisa selain Sang Kuasa?
diri sendiri kah?
Atau ada bantuan lainnya?
Siapa?

Detik terus berjalan 
namun belum dapat ditemukan yang pas
Air terus mengalir
namun hati belum juga cair
Hari silih berganti
namun bayangan belakang masih menanti

Monday, March 31, 2014

Bukan aku tapi dia

Manusia adalah mahluk yang penuh dengan ego
Ego yang besar terkadang mengalahkan dirinya sendiri
Ego yang tidak pernah mau mengalah dengan yang lain
Manusia yang tidak mengenal rasa puas dalam hidupnya

Aku terkadang bingung
Mungkinkah hanya seonggok daging segar sajakah kita?
Merah merona diluar namun tidak enak dirasa?
Aku bukan peramal yang mengetahui segala keinginan dahaga

Kau sudah mendapat bersamanaya,
namun apa daya tidak dapat melepaskan yang lain
Biarlah ia terbang bebas di udara
Mencari kesegaran dan keindahan alam semesta

Biarkan ia mengepakan sayapnya 
Terbang jauh mengelilingi samudera
Menikmati besarnya benua 
Biarkan saja

Apa yang terjadi?
Pun dia sendiri tidak mengetahui maksudnya
Tidak menginginkan adanya rasa kehilangan
Dia membutuhkannya

Dia adalah pelengkap
Menjadi tanda tanya besar pelengkap apa
Hal itu tidak bisa dijelaskan dengan ungkapan semata
Dengan dia, ia merasa terlengkapi

Egois
Tidak mau kehilangan padahal sudah memiliki batu sandaran
Itulah manusia
Tidak pernah puas dan selalu mempertahankan egonya

Bisakah kau mengerti sedikit tentang maksudku?
Bisakah kau menjelaskan satu perasaan tak terungkap
Dia ini hanyalah manusia
Manusia yang tidak mau merasa kehilangan


Why?

What is love?
Does love exist?
Why everyone is crazy about love?
Why one person dare to hurt himself for love?

Why when someone finally trust what 'love' is,
they just misuse it
Does love talk about sacrifice?
Sacrifice to see someone they love loving someone else

Why he still fallin love with that girl while she already with someone else?
Why she still hope for that guy who use her?
Why people so blind about the word of love?

There are so many burdens 
The high wall built so perfect outside
Inside, it just as fragile as cotton

Why he has to waste his time just to wait for her?
People always questioning everything

When love comes, logic stops
People wondering
Crying
Doubting
Cheating
Breaking

Tearing apart into a piece of shit

Why we call it as love?